SHAW – STBM Lima Pilar Non Subsidi, “Yes” !

Direktris Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) NTB, Ellena Rachmawati, memandang, pentingnya edukasi masyarakat dilandasi komitmen yang kuat untuk merubah cara berfikir dan perilaku. Baginya, tidak ada sesuatu yang sulit bila diupayakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Sudah biasa kalau perbuatan ke arah kebaikan banyak cobaannya, tetapi semua tantangan adalah bukti seseorang sudah melangkah maju, katanya.

Semangat itu membekalinya menaklukkan cara berfikir sebagian orang, yang cenderung skeptis dan pesimis dapat menjalankan program tanpa anggaran bantuan atau subsidi. Cara berfikir itu tidak yakin program STBM Lima Pilar bisa berhasil tanpa subsidi atau bantuan uang. Sebab program yang disubsidi saja banyak yang gagal ti tengah jalan.

Menurutnya, anggapan itu tidak seluruhnya benar, sebab edukasi mengembangkan STBM Lima Pilar tanpa subsidi ternyata hasilnya positif. “Jadi STBM Lima Pilar non Subsidi, Yes !”, cetusnya. Setidaknya itu bisa dibuktikan dengan berjalannya program STBM Lima Pilar pada desa-desa sasaran dampingan YMP-NTB di Kabupaten Lombok Timur. Desa-desa yang secara mandiri melaksanakan pilar-pilar STBM secara bertahap, dan menyatakan optimis bisa deklarasi pada Agustus mendatang.

Dengan demikian anggapan sulitnya melaksanakan program STBM Lima Pilar di desa tanpa subsidi, bahkan impossible kini terbantahkan. Bahkan pemenuhan Lima Pilar STBM bukan hanya di kalangan masyarakat mampu, tetapi dengan semangat gotong royong dan stimulan dari desa diikuti dengan pemicuan secara berkelanjutan oleh fasilitator desa, telah membuat masyarakat kurang mampu mau dan bersemangat untuk itu.

Ternyata tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk mengatasi masalahnya sendiri, merupakan modal dasar yang sangat besar untuk mengantarkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Itulah sebabnya kerja keras dan komitmen semua pihak sangat diperlukan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Kini dengan bukti-bukti itu, masyarakat sadar bahwa STBM Lima Pilar bukanlah sesuatu yang mahal dan memberatkan. Apalagi kalau masyarakat melaksanakannya secara bergotong royong, saling membantu demi terwujudnya lingkungan bersama yang sehat dan bebas dari ancaman penyakit serta gangguan lainnya.

Ia sangat optimis dengan bergeraknya semua elemen masyarakat terutama yang tergabung dalam Tim STBM Lima Pilar mulai dari tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten, akan berhasil memicu tercapainya cita-cita deklarasi STBM di desa-desa sasaran. Selain itu, sepanjang pesan-pesan STBM tersampaikan kepada masyarakat dengan benar, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menolaknya, apalagi menyangkut kepentingannya sendiri untuk jangka panjang.

Dengan modal sedekah kata-kata, sesuai semboyan STBM Lima Pilar demi hidup yang lebih sehat bagi masyarakat, Ia yakin STBM Lima Pilar akan mudah diterima, kemudian mengakar secara luas di masyarakat dan menjadi milik masyarakat sendiri, bukan milik YMP-NTB, bukan milik Pemerintah ataupun Fasilitator Desa.

Masyarakat dalam kacamata YMP-NTB, adalah perorangan, baik masyarakat biasa, pejabat atau komponen lainnya mulai dari tingkat desa sampai tingkat Pusat, baik secara perorangan maupun berkelompok atau komunitas. Karena itu YMP NTB, peduli dengan apapun di masyarakat.

Ia sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten, khususnya Bupati Lombok Timur, H. Moch. Ali Bin Dachlan, yang telah menunjukkan dukungan atas terselenggaranya program itu. Bahkan Bupati rencananya akan menginstruksikan Instansi terkait, untuk bersama-sama YMP NTB mempercepat kesiapan desa sasaran melaksanakan deklarasi STBM Lima Pilar. Instruksi itu nantinya, akan dijadikan titik awal untuk menginisiasi regulasi dan payung hukum pelaksanaan STBM di Lombok Timur selanjutnya.

Dalam rangka mendorong semangat percepatan deklarasi sekaligus evaluasi perkembangan STBM Lima Pilar di tiap-tiap Desa, pada Maret mendatang akan dilaksanakan lomba atau kompetisi apresiatif STBM Lima Pilar. Akan dihadirkan Camat, pimpinan Puskesmas, Sanitarian Promkes, Kades, Kadus, perwakilan Kader Posyandu, koordinator dusun dan Fasilitator Desa. Masing-masing akan dinilai dua orang juri dari unsur Pemkab yang direkomendasikan Bupati. Dengan demikian satu desa akan diwakili 11 sampai 16 orang.

Lomba tersebut akan diselenggarakan mulai pada tanggal 17 Maret, menampilkan 7 desa utama mempresentasikan capaian program, kondisi terakhir sesuai fakta, berapa capaian dan kekurangannya, kendalanya apa dan apa rencana solusi untuk dapat deklarasikan Lima Pilar pada Agustus mendatang. Lomba itu akan dikemas menjadi ajang pertarungan desa sehat dan mandiri, imbuh Ellena.

Tiga hari berikutnya, mulai tanggal 20, 21 dan 22 Maret, 7 desa lainnya akan berbicara tentang desa sehat mandiri, dan menyatakan kesiapan untuk membawa LombokTimur menuju desa sehat mandiri Tingkat Propinsi dan Tingkat Nasional. Juga akan membuktikan bahwa STBM Lima Pilar adalah milik semua.

Meski bersemangat pantang mundur, namun Ellenapun mengakui bahwa merubah perilaku masyarakat membutuhkan waktu dan proses serta dukungan semua pihak. Karena itu kedepan yang harus dijaga, bagaimana lembaga di desa dan kecamatan lebih kuat dan lebih getol menjalankan program. Dan akhir petualangan program STBM Lima Pilar, adalah YMP-NTB memastikan desa-desa sasaran siap ditinggalkan lembaganya akhir 2014 dan menlanjutkannya secara mandiri.

Sekretaris YMP-NTB, Nursakinah, S.Pt, saat berada di Kantor Desa Timbanuh beberapa waktu lalu, menyatakan, kehadirannya bersama LSM dari Jakarta ditempat itu, ingin mendapat penjelasan langsung mengenai perkembangan dua tahun dua tahun STBM Lima Pilar berjalan di desa itu, inovasi yang sudah dilakukan dan siapa saja pelaku yang terlibat. Sebab STBM bukanlah punya YMP, Dikes, Puskesmas tetapi merupakan milik masyarakat desa, karena itu sangat diharapkan program muncul dari pemerintah desa.

Dalam kondisi demikian, kapanpun YMP NTB meninggalkan Desa Timbanuh, ada jaminan program STBM Lima Pilar tetap berlangsung, karena pemerintah desa sudah menjadikannya aset. Ditegaskannya YMP NTB tidak datang ke desa membawa uang seperti program yang lain, tetapi menyampaikan pesan moral dan sedekah ilmu agar masyarakat desa menjadi sehat dan mandiri. Sebuah program tanpa uang tapi meninggalkan warisan yang baik bagi generasi penerus.

STBM 5 Pilar Lombok PostEllena menambahkan, kalimat-kalimat motivasi yang senantiasa di-sampaikan kepada Pelaku STBM 5 Pilar adalah ‘Jangan jadikan STBM 5 Pilar sebagai sebuah tujuan projet untuk mencari nama baik dan memperebutkan hadiah dengan cara-cara yang instan atau tidak benar, misalnya data dan informasi hasil monitoring yang tidak sesuai dengan fakta lapangan. Sesungguhnya yang rugi adalah masyarakat sendiri.

STBM 5 Pilar sesuangguhnya adalah sebuah Gerakan ‘SEDEKAH KALIMAT SEHAT’ sebagai tanda syukur kita atas semua nikmat yang telah Alloh SWT., berikan kepada kita. Sangat sederhana dan kita semua bisa melakukan, yakni dengan cara saat mata kita terbuka di pagi hari, ucapkan syukur kepada Alloh SWT., bahwa kita masih diijinkan melihat keluarga kita, setelah itu mohon ijin pada Alloh untuk melakukan SEDEKAH KALIMAT SEHAT – STBM 5 PILAR untuk keluarga dan tetangga kita, minimal 5 Rumah.

Bila 1 Rumah kita sedekah kalimat sehat sebanyak 5 Kalimat, maka ada 25 Kalimat untuk 5 Rumah dengan waktu tidak lebih 15 Menit. Bayangkan bila semua masyarakat Lombok Timur BERIKHTIAR SEDEKAH , Insya Alloh DESA SEHAT MANDIRI bisa tercapai. Jadi….. SIAPA BILANG STBM 5 PILAR MAHAL????? YUKKKKK lakukan GERAKAN SEDEKAH kalimah sehat, Insya Alloh ADA KEBAIKAN DARI SANG PEMBERI SEDEKAH HADIR UNTUK KITA DAN KELUARGA KITA. (Salam Sambang Santri)

Comments & Responses