Sinergitas Sekolah dan Masyarakat Sukseskan STBM

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dikpora Kabupaten Lombok Timur, Hasanul, S.Pd., mengaku baru mengetahui dengan jelas tentang program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Lima Pilar. Namun diakuinya program tersebut sangat mendorong usaha kesehatan sekolah, khususnya Pilar, satu, Dua dan Tiga yang memang sudah berjalan sebelumnya.

Selama ini para guru khususnya yang menangani pelajaran Penjaskes tetap memberikan pelajaran terkait, namun konsep STBM Lima Pilar dengan gerakannya menurut dia sangat menarik, sehingga baginya tidak sebatas penting diajarkan di sekolah, tetapi perlu ditularkan ke masyarakat, agar pembudayaan STBM Lima pilar utuh dan saling bersinergi antara lembaga pendidikan dan masyarakat. Untuk itu, Ia bersama Tim Penggerak PKK sering kali turun untuk melaksanakan sosialisasi dan pembinaan.

Di sekolah-sekolah yang dikunjunginya selama ini, aku Hasanul, Ia melihat telah tersedianya sarana Sanitasi seperti jamban, kran untuk cuci tangan pakai sabun dan pengelolaan sampah sudah banyak dilakukan. Karena itu, menurut Dia, yang dilakukan di sekolah sesungguhnya bukan merubah perilaku, tetapi melalui sentuhan program STBM Lima Pilar memupuk perilaku anak sejak usia dini.

Untuk membiasakan meminum air yang sudah bebas bakteri, pihak sekolah meminta anak membawa air yang sudah dimasak ke sekolah agar jika haus tidak meminum air kran atau air mentah lainnya.

Kata Hasanul, merubah perilaku anak sekolah dan masyarakat di Timbanuh tidak terlalu sulit, apalagi dengan metode yang diterapkan YMP-NTB. Hanya saja untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka perubahan masih ada kendala teknis ekonomis. Itupun sebagian sudah teratasi secara gotong royong dan swadaya sesuai kemampuan masyarakat.

Kendala teknis dimaksud, antara lain, keterampilan masyarakat untuk mengolah sampah yang tidak bisa dibuat kompos, seperti sampah-sampah non organik dengan bahan plastik. Untuk itu Ia mengusulkan untuk diberikan pelatihan keterampilan bagi masyarakat, agar sampah tersebut menjadi sesuatu yang berguna atau bernilai ekonomis bagi yang tidak bisa dijual.

Menjawab usul tersebut, Tim YMP-NTB, Nursakinah menjelaskan telah dilaksanakan Worshop diikuti peserta dari tiap dusun. Dalam pelatihan itu, selain peserta diberikan pengetahuan tentang pengolahan sampah non organik, juga ditugaskan untuk melakukan survey terhadap 50 rumah, dan mendata jenis sampah yang dihasilkan dan menganalisa volumenya.

Atas dasar itulah lembaga tersebut menentukan tahapan dan bentuk pelatihan ketrampilan selanjutnya. Dengan demikian pelatihan yang diberikan nantinya benar-benar efektif, karena bahan baku tersedia dan sesuai lingungan. Dalam paradigma STBM Lima Pilar, papar aktivis LSM itu, definisi sampah berubah, dari sisa aktifitas manusia yang menjadi sumber masalah, menjadi hasil aktifitas manusia yang dapat bernilai ekonomi. Dengan kata lain, sampah bukan masalah, tetapi selain menjadi sumber rezeki juga bisa membantu mengatasi masalah.

Comments & Responses