STBM Lima Pilar, Pertajam Promotif-Preventif Kesehatan

Kepala Puskesmas Kecamatan Pringgasela, Lalu Munggah, SE., M. Kes., menuturkan dalam perjalanan sejarahnya, Lombok Timur pernah mendapat predikat KLB diare, dan diprediksi terjadi setiap lima tahun. Karena itu, setiap lima tahun Pemerintah Daerah khususnya jajaran Dinas Kesehatan selalu melakukan antisipasi.

Ia bersyukur siklus itu tidak terjadi dalam kurun waktu terakhir ini. Bahkan dikatakannya, tidak ditemukan adanya pasien diare yang dirawat inap dan sampai diinfus di Puskesmas pada musim penghujan. Ini mengindikasikan upaya promotif dan preventif yang digalakkan Dinas Kesehatan melalui unit kerja Sanitarian Puskesmas selama ini cukup berhasil mencegah penyakit dampak lingkungan.

1926258_401124130024967_614226612_o

Ditegaskannya, terhindarnya masyarakat dari ancaman penyakit berbasis lingkungan itu, karena masyarakat melaksanakan langkah prefentif dengan mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Ia sangat mengapresiasi masuknya program STBM Lima Pilar di wilayahnya, karena memberikan andil besar bagi terwujudnya semangat dan kesadaran masyarakat untuk mengatasi kebutuhannya untuk hidup sehat secara mandiri dan berkelanjutan.

Menurut Dia, program STBM Lima Pilar sangat mendukung program Dinas Kesehatan di masyarakat, khususnya promotif dan prefentif. Salah satu kelemahan masyarakat dalam menangkal penyakit yang berbasis lingkungan terletak pada pada dua aspek tersebut, tambahnya.

Dengan demikian, Ia mengaku sangat terbantu dengan masuknya STBM Lima Pilar. Dengan program sebelumnya, Ia dan jajarannya masih mengejar pilar satu saja, kini perkembangan di masyarakat sudah masuk di pilar-pilar yang lain. Program tersebut juga terbukti efektif menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan di wilayah kerjanya, karena itu Ia menyatakan apreasiasi dan terima kasih pada YMP NTB yang telah berberak bersama STBM Desa, Toga Toma dan Pemerintah Desa.

Beberapa kegiatan yang dilakukan lembaganya dalam mendorong tuntas STBM Lima Pilar, antara lain membimbing kader melakukan survey masyarakat, kemudian bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat bermusyawarah menanggulangi permasalahan berdasarkan hasil survey. Beberapa permasalahan diselesaikan dengan dukungan dana BOK pada Puskesmas, juga untuk para kader Posyandu.

Untuk menghadapi target deklarasi STBM Lima Pilar pada Agustus mendatang, Ia mengaku sudah melakukan pendataan perkembangan di masyarakat. Pelaksanaan Pilar I saat ini sudah diperkirakan sudah mencapai 63%, sedangkan pilar II dengan capaian 89% terus didorong dengan memberikan pengetahuan tentang manfaatnya agar cuci tangan pakai sabun benar-benar membudaya. Iapun melihat perkembangan perilaku masyarakat yang saat pesta tidak lagi cuci tangan ramai-ramai dalam satu mangkok air karena berbahaya bagi yang belakangan cuci tangan sebelum makan.

Pada Pilar III, masyarakat juga sudah terbiasa meminum air bebas bakteri, selain dimasak terlebih dahulu juga air mineral kemasan. Bersamaan dengan itu, dalam mengolah makan harus diupayakan tangan dicuci pakai sabun dulu, kemudian sayur yang akan dimasak juga dicuci bersih. Disosialisasikannya pula, bahwa penggunaan bumbu penyedap instan secara terus menerus dapat membahayakan kesehatan.

Untuk Pilar IV dan V, diperkirakannya sudah mencapai 85%. Dengan terjadinya perubahan perilaku masyarakat pada dua pilar tersebut, akan menghindarkan masyarakat dari wabah penyakit Malaria, Demam Berdarah dan Cikungunya. Karena itu Ia bersama toga-toma setempat bahwa kebiasaan itu perlu untuk diwariskan ke generasi berikutnya, bukan sekedar untuk menarget deklarasi.

Di pihak lain, pelatihan keterampilan mengolah sampah plastik, termasuk dengan bahan baku bungkus makanan ringan atau snack yang biasa dikonsumsi anak-anak dipandangnya sebagai tantangan. Sebab, saat ini Ia bersama jajarannya tengah getol mengkampanyekan pengurangan sampah plasti, sekaligus mensosialisasikan kandungan zat berbahaya yang ada dalam makanan instan itu. Ia mengkhawatirkan, bila masyarakat sudah punya keterampilan itu sulit mencegahnya konsumsi makanan yang mengandung zat berbahaya itu.

Kekhawatiran Kepala Puspesmas itu dijawab Tim YMP lainnya. Dikatakan, kegiatan yang akan dilakukan YMP-NTB, adalah menjawab permasalahan karena itu program atau kegiatan tidak akan dilaksanakan bila tidak ada masalah. Jika sampah plastik bukan masalah di wilayah itu, maka keterampilan yang akan diberikan tentu harus berbeda, agar berguna bagi masyarakat.

Namun Sekretaris YMP NTB, Nursakinah, S.Pt., menyatakan apresiasi terhadap gagasan Kepala Puskesmas untuk mengurangi sampah plastik dalam berbagai bentuk, termasuk dari bungkus snack maupun tas kresek. Oleh karena harus dimulai menolak tas kresek sebagai pembungkus barang belanjaan di pasar atau tempat lainnya

Comments & Responses