Desa Timbanuh, Siap Deklarasi STBM Lima Pilar

1800173_401125130024867_1214754308_o

Desa Timbanuh Kecamatan Pringgasela yang baru dua tahun berdiri merupakan salah satu contoh Desa yang telah menjalankan konsep-konsep Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Lima Pilar. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, terutama kondisi sosial ekonomi masyarakat relatif rendah, sebagai desa yang relatif muda dan berada di kaki Gunung Rinjani, masyarakat desa itu cepat berbenah. Seakan tidak memberi kesempatan pada kemiskinan untuk menghalanginya mencapai hidup yang lebih baik.

Masuknya Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) NTB membawa program STBM Lima Pilar di Desa itu, bukan saja menghembuskan energi kuat mendorong terwujudnya perilaku masyarakat hidup bersih, sehat dan mandiri, namun juga telah membuatnya berfikir arif dan terinspirasi untuk secara swadaya dan mandiri membangun kehidupan yang lebih bermartabat. Hebatnya, informasi semangat kemandirian masyarakat tersebut dengan cepat menyebar ke beberapa daerah, sehingga beberapa kali desa baru itu menerima kunjungan dari daerah lain.

Kepala Desa Timbanuh, M. Ilham, S.IP., secara gamblang menggambarkan kondisi masyarakat desanya, sebelum mekar dari Desa Pengadangan dan perkembangan setelah berdiri sendiri serta mendapat dampingan dari YMP-NTB dalam membangun sikap mental masyarakat.

Dulu, kenangnya, jamban keluarga bisa ditemukan dibeberapa rumah saja, itupun di kalangan masyarakat yang tergolong mampu dan berpendidikan. Namun masyarakat Timbanuh yang umumnya masih tergolong miskin, selain tak membayangkan memiliki jamban keluarga di rumahnya, juga masih biasa melakukan buang air besar (BAB) sembarangan.

Kebiasaan itu menimbulkan gangguan kenyamanan, baik bagi orang luar desa yang berkunjung maupun masyarakat sendiri. “Selain menimbulkan bau kurang sedap, bila kita tidak hati-hati berjalan di kebun, ladang atau bahkan pekarangan masyarakat, kita bisa menginjak kotoran manusia”, tuturnya menggambarkan.

Selain itu, setiap tahun (musim hujan) warga setempat selalu memenuhi Puskesmas karena ditimpa wabah penyakit berbasis lingkungan, seperti diare, Demam Berdarah, dan Malaria, ujar Kades.

Kini kebiasaan BAB sembarangan itu dipastikannya hampir hilang, selain karena di rumah-rumah masyarakat, tak peduli kaya atau miskin umumnya telah tersedia sarana jamban. Disamping itu pemerintah desa juga mengupayakan adanya jamban untuk beberapa rumah yang letaknya berdekatan. Sementara itu, untuk membantu masyarakat miskin Pemerintah Desa sudah memesan closet melalui Paguyuban STBM Kabupaten untuk didistribusi ke semua RT dan Kekadusan.

Itu baru dari kacamata pilar satu STBM. Pada pilar-pilar berikutnya seperti kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar, membiasakan minum air yang sudah dimasak (steril), pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga juga sudah berjalan sesuai harapan. Meski diakuinya, untuk seratus persen tuntas Lima Pilar membutuhkan waktu dan proses, namun Ia optimis siap memproklamirkan diri tuntas STBM Lima pilar pada Agustus mendatang.

“Ajaran” mengembangkan konsep STBM Lima Pilar tanpa subsidi yang dipropagandakan YMP NTB bersama kadernya selama ini, awalnya dibayangkan sulit ternyata bukan hal yang berat. Perlahan tapi pasti, nilai-nilai itu membentuk kultur masyarakat.

Kemudahan upaya menginternalisasi nilai itu di hati masyarakat juga terwujud karena Tim STBM Desa, Fasilitator Desa, semua sub sistem pemerintahan desa, dan pemerintahan kecamatan dapat merespon konsep itu dengan cepat dan cerdas. Selanjutnya masing-masing stakeholders yang ada berperan aktif, saling mendukung untuk mendorong.

Sang Kepala Desa secara terang-terangan mengakui masuknya YMP NTB dengan program STBM Lima Pilar diawal berdirinya desa itu, merupakan salah satu modal dasar yang penting untuk mengawali tugas membangun desa. Sebab Desa Timbanuh, meskipun letaknya di pinggir hutan, di lereng gunung namun selama ini dikenal dan banyak dikunjungi baik karena memiliki potensi alam untuk wisata, baik maupun produk komoditi tanaman perkebunan lainnya.

Masuk program STBM Lima Pilar merupakan peluang untuk meraih kondisi lingkungan masyarakat yang bersih dan sehat secara mandiri. Kondisi itu merupakan modal dasar untuk mengembangkan potensi desa menjadi Desa Wisata, dan optimalisasi modal dasar lainnya. Kondisi demikian juga akan memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang mengunjungi Air Terjun Semporonan, Air Terjun Mayung Polak atau melihat-lihat kembang (bunga-red) Kopi atau komoditas lainnya.

Menuturkan langkahnya mempercepat Desa bebas dari buang air besar sembarangan masyarakat, dikembangkannya program berbasis RT, yang menurutnya sangat efektif. Pada tahap pertama, Kepala Desa bekerjasama dengan 23 RT di tiga dusun yang ada, menyiapkan 197 closet sebagai stimulasi masyarakat membuat jamban rumah tangga. Kemudian pada tahap dua, sudah dipesan 100 unit closet yang akan diberikan kepada masyarakat miskin tidak mampu membeli closet.

Menurutnya, hampir seluruh masyarakat Desa saat ini merasakan kebutuhan untuk memiliki sarana itu, namun belum seluruhnya mampu membeli sehingga Pemerintah Desa mengupayakan. Bantuan yang diberikan untuk satu rumah tangga, antara lain, satu closet, dua bois beton, satu lonjor beton dibagi tiga keluarga, dan satu zak semen. Untuk membangun WC tanpa atap dan dinding, bantuan itu sudah cukup. Namun dengan kesadaran, masyarakat melengkapi sendiri kekurangan, juga dikerjakan secara gotong royong.

Berdasarkan laporan hasil monitoring terhadap 611 rumah tangga di desa itu sampai dengan Januari 2014, sebanyak 373 sudah melaksanakan Pilar 1, 557 sudah memenuhi pilar 2, 555 rumah sudah melaksanakan pilar 3, 546 rumah sudah penuhi pilar 4, sementara pilar 5 sudah dilaksanakan 590 rumah.

Artinya, selain meratanya kepemilikan jamban keluarga, masyarakat juga saat ini sudah banyak yang tidak lagi meminum air mentah, tetapi minum air yang sudah dimasak atau air mineral kemasan. Demikian pula dengan cuci tangan pakai sabun, mengelola sampah rumah tangga dan limbah cair rumah tangga kini juga sudah mulai membudaya dan terus dilakukan upaya pemicuan.

Membiasakan hidup bersih dan sehat, merupakan kebanggaan dan keteladanan orang tua yang perlu diwariskan kepada generasi penerus. Karena itu, meski tanpa subsidi, dimintanya Tim STBM Desa untuk tetap bersemangat menjalankannya.

Sebab kalau dicermati lebih dalam, dengan adanya lingkungan yang bersih dan sehat masyarakat sudah menghemat uang cukup besar untuk membiayai kesehatan bila terjangkit penyakit akibat lingkungan kotor. Ia ajak masyarakatnya coba menghitung biaya berobat, meskipun gratis namun pasti memerlukan uang untuk biaya makan-minum, tranport, dan lain-lain.

Comments & Responses