Spirit Sambang Santri

Satu pendekatan khusus yang digunakan selama ini oleh YMP dalam kerja pemberdayaan masyarakat desa di NTB adalah pendekatan yang mendorong terjadinya perubahan perilaku masyarakat yang tumbuh dari kesadaran mereka sendiri secara kolektif maupun secara individu. Bagi YMP, perubahan perilaku merupakan syarat utama bagi berdayanya masyarakat.

Namun sebentar, apa sebenarnya perilaku itu? Sigmund Freud telah membagi ‘mind’ ke dalam wilayah sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious)1. Faktor yang paling dominan dan paling penting pembentuk perilaku individu malah ada pada wilayah unconsciousness atau alam bawah sadar masing-masing individu, di mana di sana tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan insting.

Perilaku yang muncul merupakan konsekuensi logis dari ketidaksadaran, sedangkan ketidaksadaran itu tidak dapat dikaji secara langsung. Rumusan tersebut kemudian telah memberikan penjelasan mendasar mengapa betapa sulit mendorong terjadinya perubahan perilaku masyarakat. Maka, perkara pemberdayaan masyarakat dapat dipahami sebagai upaya yang sangatlah tidak mudah dan sederhana.

Menurut Gerald Corey, seorang pakar konseling, tidak ada satu model terapi perubahan perilaku khusus yang dapat digunakan bagi setiap situasi. Artinya, pendekatan program seperti yang dilakukan YMP selama ini memang harus cukup fleksibel dan adaptif terhadap situasi yang dihadapi di masing-masing desa, walau tetap harus dalam koridor skema pendekatan program yang integratif.

Masih menurutnya, perubahan perilaku membutuhkan terapi, yang dibangun di atas pondasi utama yaitu kesaling-percayaan dan respek antara terapis dan klien. Tingkat kedekatan hubungan yang terbangun antara keduanya akan menentukan seberapa jauh sebuah perubahan perilaku dapat didorongkan. Terapi akan membutuhkan penguasaan atas teknik-teknik konseling, namun konseling sendiri sebenarnya memiliki cakupan makna lebih dari sekedar teknik terapi. Disebutkan bahwa instrumen/alat terapi paling utama adalah diri sang konselor/terapis itu sendiri, dan disadari bahwa karakter diri masing-masing terapis adalah unik dan otentik. Sifat utama yang dibutuhkan oleh terapis yang baik antara lain adalah adanya rasa peduli, mau mendengar, berani mengambil resiko, bersedia untuk tumbuh dan berkembang bersama dan mau melibatkan diri dlam situasi klien dengan tetap menjaga profesionalitasnya. Terapis yang baik selalu mendasarkan kerjanya pada nilai-nilai tertentu, dan dengan ini maka terapis sesungguhnya bukanlah orang yang bebas nilai. Dan, tugas utama terapis adalah mendampingi klien untuk menemukan jawaban terbaik bagi permasalahan mereka di atas dasar nilai-nilai yang mereka miliki.

Jadi, sesungguhnya para Pendamping Desa yang kemudian menjadi Koordinator Wilayah, dan juga para Fasilitator Desa dalam program ini adalah para terapis. Keberhasilan program YMP yang mendorongkan perubahan perilaku masyarakat desa pada aspek sanitasi dan kesehatan, akan sangat ditentukan oleh kehandalan instrumen/alat ini, yaitu para terapisnya sendiri.

Lebih lengkap tentang Spirit Sambang Santri, silahkan download di link berikut: https://drive.google.com/open?id=1rC0a1FhPqZPm3Tl08iqWJuKX6CS08HK8

Comments & Responses