Tim Kabupaten: Kolaborasi Birokrasi & Pergerakan Santitasi

TIM STBM KABUPATEN: UPAYA KOLABORASI BIROKRASI DAN PERGERAKAN SANITASI

Sebagai pemegang kunci kegiatan, pemerintah kabupaten menyiapkan tim khusus: Tim Pembina dan Tim Teknis Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Kedua tim inilah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan berbagai kegiatan terkait STBM hingga proses replikasi dan keberlanjutannya. Tim pembina, di bawah koordinator Kepala Bappeda Lotim, lebih banyak bertindak sebagai pengarah kegiatan dan mengawal kebijakan termasuk yang terkait anggaran. Bagaimana dengan tim teknis? Tim inilah yang menjadi fasilitator utama kegiatan-kegiatan STBM di kecamatan.

Tim teknis terdiri atas 8 orang PNS yang dipilih oleh Kepala Dinasnya masing-masing (Dinas Kesehatan, BPMPD, dan Bappeda).

Tugas utama mereka antara lain melatih dan mendorong tim STBM 5 Pilar Kecamatan mewujudkan target SEHATI di Kecamatan dan Desa. Sejauh ini YMP sudah membekali mereka penguatan kapasitas terkait kefasilitatoran dan public speaking. Penguatan dilakukan juga secara “on the job training”. Sebagaimana dituturkan Ellena, setiap kali selesai pertemuan dengan Tim Kecamatan, reviu digelar dan YMP memberikan masukan teknis bagi kedelapan fasilitator kabupaten ini.

Kolaborasi lintas sektor dan dilakukan secara berjenjang inilah yang menjadikan dr. Akmal Kurnia, Tim Pembina SEHATI, merasa sangat optimis target SEHATI dapat terwujud.

“Secara konsep, SHAW dan SEHATI sama. Namun secara pendekatan, berbeda,” Katanya. Dokter yang juga Ketua KNPI Lombok Timur ini menegaskan apa yang dilakukan YMP melalui SEHATI merupakan kolaborasi birokrasi dengan pergerakan.

Di sisi lain, ia juga menyadari bukan hal mudah mewujudkan konsep STBM melalui birokrasi sekalipun sistemnya sudah terbangun lengkap (Baca: Peluang Dan Tantangan Bekerja Bersama Birokrat). Meski demikian, dokter muda ini lumayan terkejut melihat antusiasme para kepala puskesmas di wilayahnya dalam merespon SEHATI.

Puskesmas Pringgasela, misalnya. Di awal program, kepala puskesmas Pringgasela sudah menyatakan berhasil mengadvokasi tiga desa di wilayahnya untuk melakukan replikasi program STBM.

Sementara itu, menurut Dewanto Hadi, mekanisme pendekatan SEHATI ini sangat bermanfaat bagi Bappeda untuk mengenali proses penyadaran masyarakat secara lebih komprehensif. Bappeda memang mengutus dua orang stafnya sebagai Tim Teknis Kabupaten bersama dengan Dinas Kesehatan dan BPMPD.

DELAPAN BULAN PERTAMA YANG MENENTUKAN

Tidak kurang 19 capaian (di luar pelatihan analisis sosial dan analisis gender) ditorehkan sejak Simavi memulai SEHATI yaitu Februari hingga September 2016. Mengapa begitu banyak capaian di fase ini?

“Kalau kita hanya fokus pada tanda tangan bupati, kita akan melewatkan masa pembahasan anggaran (untuk periode 2017),” jelas Ellena. Hanya fokus di anggaran juga tidak mungkin. Anggaran tanpa penguatan kapasitas akan mubazir. Begitupun regulasi, YMP mencita-citakan perda yang berakar kuat di masyarakat. Solusinya, YMP mengatur penguatan kapasitas, anggaran dan regulasi dilaksanakan secara paralel dan bertahap.

“Kami ingin pasca monitoring pertama di Bulan Desember, segalanya sudah asyik di 2017,” harap Ellena.

Comments & Responses