STBM 5 Pilar Ciptakan Lapangan Kerja Baru

Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 5 pilar selain berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, program yang diprakarsai Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) NTB ini juga memberikan kontribusi pada peningkatan ekonomi dan memberikan peluang lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Hal ini terlihat dari keberhasilan paguyuban tukang peduli sanitasi yang terbentuk di 7 Kecamatan yaitu Kecamatan Aikmel, Sembalun, Keruak, Pringgasela, Sikur, Montong Gading dan Sukamulia yang menaungi 47 Desa lokasi program STBM 5 pilar yang telah mampu menghasilkan kloset berkwalitas dan mendapatkan pesanan kloset dari sejumlah Daerah.

Semua Peduli Sanitasi-Web

Direktur YMP NTB, Helena Rachmawati menjelaskan terbentuknya paguyuban tukang peduli sanitasi setelah YMP menggelar pelatihan produksi dan marketing sanitasi pada awal tahun 2013 lalu yang diikuti oleh 47 orang pemuda dari 47 Desa lokasi program. Pelatihan yang dilaksanakan selama 6 hari itu, mendatangkan pelatih dari paguyuban serupa berasal dari Grobogan Jawa Tengah.

Kegiatan ini bertujuan menggerakkan dan memberdayakan anak-anak muda untuk memiliki jiwa sosial dan peduli masalah sanitasi untuk memberikan penghasilan tambahan guna percepatan program STBM 5 Pilar terutama di pilar pertama Stop Buang Air Besa Sembarangan.

Pada awalnya para peserta pelatihan menurut Helena sempat pesimis dengan pelatihan ini, karena mereka kerap mengikuti pelatihan serupa namun tidak ada tindak lanjutnya. Bahkan mereka juga mempertanyakan bantuan modal yang akan diberikan. Akan tetapi dengan tegas Helena menjawab bahwa pihaknya tidak akan memberikan bantuan modal. Ia hanya menanamkan nilai- nilai kerja keras. Karena dengan bekerjalah baru uang akan didapatkan.

Setelah mengikuti pelatihan para peserta diberikan kesempatan untuk penguatan kapasitas sendiri selam 2 sampai 3 bulan dengan berkoordinasi dengan Kepala Desanya. Namun dari 47 orang itu hanya 15 orang yang kembali untuk melakukan review dan menunjukkan prakteknya serta diberikan penguatan kapasitas lanjutan dan menghasilkan 8 orang tukang yang berkualitas.

Pemerintah Daerah Lombok Timur juga memberikan dukungan dengan memberikan bantuan peralatan yang diperlukan bagi 7 paguyuban tersebut.

Buah dari hasil kesungguhan para peserta yang mengikuti pelatihan produksi dan marketing sanitasi tersebut akhirmnya tidak sia-sia. Dalam waktu kurang dari setahun paguyuban menghasilkan tidak kurang dari 3.509 unit jamban dan pesanan untuk jamban dan peralatan sanitasi lainnya terus mengalir. Bahkan dituturkan Helena baru-baru ini paguyuban yang dibentuknya telah menerima pesanan dari Momere, Bima dan Kabupaten Lombok Tengah.

Tidak itu saja, 8 orang tukang yang telah dibina itu kerap memberikan pelatihan pembuatan kloset bagi Daerah lain bahkan diundang langsung ke luar daerah seperti papua dan NTT.

Keuntungan dari pembuatan kloset ini juga cukup menjanjikan dan memberikan tpenghasialn tambahan bagi masyarakat. Kloset serupa di pasaran dijual dengan harga 85 ribu rupiah, namun paguyuban ini bisa memasarkan dengan harga murah sekitar 50 sampai 60 ribu rupiah dengan kwalitas yang bagus. Satu unit klosetnya bisa memberikan keuntungan 20 sampai 25 ribu rupiah. Sehingga tidak heran pembuatan jamban ini juga bnyak dilakukan masyarakat baik itu laki-laki maupun wanita.

Kendati demikian menurut helenan pihaknya tetap melakukan monitoring dan review pada anggota paguyuban agar tetap menjaga kwalitas kloset yang dihasilkan.

Direncanakan pada agustus 2014 mendatang YMP akan melakukan Deklarasi STBM 5 pilar dan menghasilkan desa-desa yang berkwalitas dan benar-benar siap menunjukkan bahwa mereka berhasil melaksanakan 5 pilar utama secara nyata yakni Stop BABS, Cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum keluarga, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Ia tidak ingin deklarasi yang dilakukan nanti hanya berorientasi pada proyek semata. Karena bisa saja setelah deklarasi masyarakat akan kembali pada prilaku semula. Terlebih Jika 5 pilar utama ini dijalankan sungguh-sungguh oleh masyarakat ungkap Helena, maka sebagaian besar permasalahan kesehatan akan dapat teratasi, terutama yang berkaitan dengan penyakit-penyakit berbasis lingkungan.

Setelah program SHAW berakhir pada tahun 1014 maka akan ada program SHAW lanjutan tahun 2015-2018 yang akan dibiayai lembaga donor yang sangat antusias melihat perkembangan STBM 5 pilar yang dilakukan YMP di Lombok Timur. Ia pun hanya akan memilih sebagian dari 47 desa tersebut yang benar-benar serius menjalankan STBM 5 pilar yang didukung oleh tim dari desa maupun Kecamatan sebagai lokasi program SHAW 2.

Comments & Responses